Lima Makanan Yang jika Dipanaskan Kembali Bisa Menjadi Racun

Lima Makanan Yang jika Dipanaskan Kembali Bisa Menjadi Racun

Lima Makanan Yang jika Dipanaskan Kembali Bisa Menjadi Racun – Penhakah terlintas di pikiran Anda, apakah makanan yang sudah dipanaskan kembali akan aman untuk dikonsumsi? Pertanyaan seperti ini sangat relevan jika bercermin pada kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering menyisakan makanan.

Daripada mubazir, banyak yang berpikir untuk memanaskan kembali sisa makanan menggunakan oven atau microwave. Namun menurut Lokendra Tomar, selaku ahli gizi dari Weight Loss Clinic, praktik seperti ini sebetulnya dapat menghilangkan nilai gizi dalam makanan dan bisa berdampak pada timbulnya berbagai penyakit berbahaya. Kuncinya adalah jangan pernah memanaskan makanan yang mempunyai protein tinggi,” Ujar Lokendra.

Selain itu, ternyata ada sejumlah jenis makanan lain yang tidak boleh dipanaskan kembali. Berikut ulasan lengkapnya, sebagaimana diliput oleh GrupQQ.Com, Rabu (5/9/2018) Lima Makanan Yang jika Dipanaskan Kembali Bisa Menjadi Racun.

Nasi

Anda mungkin terkejut ketika mengetahui bahwa nasi menjadi salah satu jenis makanan yang masuk dalam kategori ini. Menurut laporan Food Standards Agency (FSA), seseorang bisa menderita keracunan makanan jika mengonsumsi nasi yang sudah dipanaskan. Ini karena adanya bakteri bacillus cereus yang dapat menghasilkan spora beracun. Setelah beras dipanaskan dan ditinggalkan pada suhu kamar, spora yang ada didalmnya akan berkembang biak dan selanjutnya bisa menyebabkan keracunan makanan.

Telur

Kita semua tahu bahwa telur adalah makanan yang kaya akan protein dan nutrisi esensial lainnya. Namun perlu diketahui, telur matang atau telur rebus dapat menyebabkan penyakit serius ketika dihangatkan kembali. Untuk menghindari hal tersebut, Anda harus segera mengonsumsi telur setelah selesai diolah. Jika ingin menyimpan dalam jangka waktu yang lama, maka jangan memanaskan makanan tersebut. Pasalnya, makanan berprotein tinggi juga mengandung banyak nitrogen. Kandungan inilah yang dapat meningkatkan risiko kanker jika teroksidasi ketika makanan dipanaskan kembali.

Baca Juga : Messi Akhirnya Angkat Bicara Terkait Kepindahan Ronaldo ke Juventus

Ayam

Sebagian besar orang tentu saja, ayam merupakan salah satu makanan terlezat yang ada di muka bumi ini. Apalagi jika diolah dengan campuran berbagai bumbu rempah-rempah atau yang kita kenal dengan nama gulai. Namun perlu Anda ketahui, makanan ini sebaiknya tidak dipanaskan kembali karena komposisi protein yang terkandung di dalamnya dapat menyebabkan masalah pada sistem pencernaan.

Kentang

Kentang sering dijadikan makanan pokok karena proses pengolahannya yang cenderung praktis dan mudah untuk disimpan. Sayangnya, Anda perlu berpikir lagi jika ingin menghangat makanan berbahan dasar kentang. Makanan ini memang kaya akan vitamin B6, kalium, dan vitamin C, namun kandungan tersebut dapat menghasilkan clostridium botulinum (bakteri yang menyebabkan botulism) ketika dipanaskan kembali. Bahkan, ketika Anda membiarkan olahan kentang matang dalam suhur kamar, pertumbuhan bakter tersebut tetap akan meningkat. Jadi cara terbaik untuk menghindarinya adalah menyimpan kentang di dalam lemari es, atau membuangnya jika tidak dikonsumsi dalam 1-2 hari.

Sayuran berdaun hijau

Jika Anda meyisakan makanan berbahan dasar sayuran berdaun hijau seperti bayam, wortel, lobak, atau seledri, sebaiknya . Sayuran tersebut diklaim mengandung senyawa nitrat yang sangat tinggi. Ketika dipanaskan senyawa ini akan berubah menjadi racun dan melepaskan sifat karsinogenik. Zat inilah yang meningkatkan risiko kanker pada tubuh manusia. Untuk sayur bayam sendiri diketahui mengandung zat besi yang sangat tinggi. Jika dipanaskan kembali, proses tersebut dapat mengoksidasi besi yang ada di dalamnya. Oksidasi zat besi inilah yang akan menghasilkan radikal bebas, dan diketahui menyebabkan berbagai penyakit berbahaya termasuk infertilitas dan kanker.

Lima Makanan Yang jika Dipanaskan Kembali Bisa Menjadi Racun

BANDARQ | DOMINO QQ ONLINE  | BANDARQ TERPERCAYA | SAKONG ONLINE

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*